TRIBUNNEWS.COM - Pengurus mayat Kota Medellin, Kolombia, meluncurkan sensus hantu. Dari sensus yang dilakukan berkat keahlian itu, terdata sebanyak 215 arwah, 23 di antaranya dalam bentuk gambar dan video.
"Ini memang di luar nalar, banyak bangunan di kota dan rumah-rumah yang memiliki hantu. Selama bertahun-tahun, kita mendengar cerita dan kita berpikir bahwa waktu datang mendekat. Kami membuat katalog dan mengklasifikasikan hantu-hantu tersebut melalui sensus," tutur William Betancur di Medellin, Jumat (31/12/2010).
William, Manajer Rumah Pemakaman Betancur ini mengungkapkan, ia memulai membuat daftar beberapa pekan lalu. Ia mengirimkan satu tim pekerja pemakaman dengan seragam lengkap, untuk berada di bangunan di sekitar Medellin.
"Mereka melaporkan adanya sebanyak 215 hantu. Video dan kamera kami menangkap 23 penampakan," kata William, bangga. William mengaku menerima panggilan untuk keahlian ini, termasuk panggilan dari perusahaan di luar Medellin.
"Rencana kami melakukan sensus dalam kurun waktu setahun. Nantinya kami memikirkan untuk membuat buku dan mungkin juga film seri dokumenternya," kata William.
Ide sensus hantu didapat saat Wiilliam merasa anjing peliharaannya yang telah mati empat bulan lalu, masih berada di rumah. Benarkah?
Dengar kata 'Jepang', yang teringat di benak biasanya adalah kreatifitas. Yups, menurut saya, negara ini adalah negara penghasil ide, barang2 dan benda keren yang tiada henti.
Seperti yang berikut nih, penemuan paling unik, aneh dan kreatif, tapi kayaknya manfaatnya kurang deh..cekidot
![]() |
| Topi Tissue.....kalau saya sih malu memakainya,apalagi itu tissue toilet |
![]() |
Korek Lup...
mungkin hemat bahan bakar, dan tidak berbahaya...tapi maaf tahan rasa ingin merokok anda ketika cuaca sedang mendung ataupun hujan
|
![]() |
| Dasi Dompet......mungkin praktis tapi tidak dijamin aman |
![]() |
| Sendal Pemukul Serangga.....sungguh merepotkan,kenapa tidak langsung diinjak saja |
![]() |
Alat Pertanian Serbaguna.......
Mungkin sipembuat ingin agar para petani punya alat yang praktis...tapi saat menyiram tanaman maukah anda membawa cangkul, sekop, dan sabit juga..
|
![]() |
| Topi Payung
anda mungkin membuntuhkan pintu yang lebih besar agar bisa masuk kedalam rumah dengan topi ini
|
VIVAnews -- Ini mungkin bukan kabar yang menyenangkan, tapi fakta menunjukkan, otak manusia makin mengecil.
Hasil penelitian mengungkapkan ukuran otak mengalami penyusutan secara gradual selama 20.000 tahun. Penurunan ini terjadi di seluruh dunia, berlaku untuk pria dan wanita, di semua ras.
"Selama 20.000 tahun terakhir, volume rata-rata otak pria berkurang dari 1.500 centimeter kubik menjadi 1.350 centimeter kubik, jumlah yang hilang seukuran bola tenis," kata Kathleen McAuliffe, penulis di Discover Magazine.
"Otak perempuan juga mengecil dengan proporsi yang sama," tambah dia.
Apakah ukuran otak yang mengecil berarti manusia makin bodoh?
Dr John Hawks, antropolog dari University of Wisconsin berargumen, ukuran otak yang makin kecil tidak berarti menurunnya intelejensia.
Justru sebaliknya, penurunan ukuran otak kita menunjukkan bahwa kita sudah semakin cerdas.
Otak, katanya, menggunakan sampai dengan 20 persen dari semua bahan bakar yang kita konsumsi. Oleh karena itu otak yang lebih besar akan membutuhkan lebih banyak energi dan memakan waktu lebih lama untuk berkembang.
Dr Hawks mencatat bahwa ledakan populasi manusia antara 20.000 dan 10.000 tahun yang lalu memicu mutasi yang menguntungkan.
Hawks yakin, itu menyebabkan otak menjadi lebih ramping, perubatan neurokimia makin meningkatkan kapasitas otak kita.
Beberapa paleontolog juga sepakat dengan pendapat Hawks, bahwa ukuran yang mengecil, justru makin efisien.
Namun, tak semua ilmuwan berpendapat senada. Beberapa yakin bahwa manusia menjadi makin bodoh, sejalan dengan proses evolusinya.
Beberapa teori digunakan untuk menjelaskan misteri peyusutan otak manusia. Salah satunya, bahwa ukuran kepala yang besar diperlukan manusia purba jaman Paleolitik Atas untuk selamat dari udara dingin.
Teori kedua, ukuran kepala berkaitan dengan pola mencari makan di masa lalu, yakni berburu. Makin gampang mendapatkan makanan, kepala manusia akan berhenti berkembang.
Sementara, ahli lain berpendapat, dulu, ketika tingkat kematian bayi tinggi, hanya bayi yang terkuat yang selamat -- dan yang paling kuat adalah yang memiliki kepala dan otak besar. Kini, dengan penurunan tingkat kematian bayi, mendorong penurunan ukuran otak secara proporsional.
Menurut penelitian yang dilakukan David Geary dan Drew Bailey dari University of Missouri mengeksplorasi bagaimana ukuran tengkorak manusia berubah ketika manusia beradaptasi dalam lingkungan sosial yang makin kompleks antara 1,9 juta sampai 10.000 tahun lalu.
Mereka menemukan, saat kepadatan populasi rendah, ukuran tengkorak meningkat. Sebaliknya, ketika populasi daerah tertentu berubah dari jarang ke padat, ukuran tengkorak kita menurun -- karena manusia tak harus cerdas untuk bertahan hidup.
Namun Dr Geary memperingatkan, jangan lantas mengira bahwa nenek moyang manusia lebih pintar dari kita.
"Nenek moyang kita tidak memiliki intelektualitas dan daya kreasi seperti manusia modern, karena mereka tidak memiliki dukungan budaya," kata dia. Saat itu, manusia diperas pikirannya untuk bertahan hidup.
Peningkatan pertanian dan kota-kota modern yang didasarkan pada spesialisasi ekonomi memungkinkan manusia yang cerdas menfokuskan upaya mereka pada ilmu, seni, atau bidang lainnya.
• VIVAnews
Hasil penelitian mengungkapkan ukuran otak mengalami penyusutan secara gradual selama 20.000 tahun. Penurunan ini terjadi di seluruh dunia, berlaku untuk pria dan wanita, di semua ras.
"Selama 20.000 tahun terakhir, volume rata-rata otak pria berkurang dari 1.500 centimeter kubik menjadi 1.350 centimeter kubik, jumlah yang hilang seukuran bola tenis," kata Kathleen McAuliffe, penulis di Discover Magazine.
"Otak perempuan juga mengecil dengan proporsi yang sama," tambah dia.
Apakah ukuran otak yang mengecil berarti manusia makin bodoh?
Dr John Hawks, antropolog dari University of Wisconsin berargumen, ukuran otak yang makin kecil tidak berarti menurunnya intelejensia.
Justru sebaliknya, penurunan ukuran otak kita menunjukkan bahwa kita sudah semakin cerdas.
Otak, katanya, menggunakan sampai dengan 20 persen dari semua bahan bakar yang kita konsumsi. Oleh karena itu otak yang lebih besar akan membutuhkan lebih banyak energi dan memakan waktu lebih lama untuk berkembang.
Dr Hawks mencatat bahwa ledakan populasi manusia antara 20.000 dan 10.000 tahun yang lalu memicu mutasi yang menguntungkan.
Hawks yakin, itu menyebabkan otak menjadi lebih ramping, perubatan neurokimia makin meningkatkan kapasitas otak kita.
Beberapa paleontolog juga sepakat dengan pendapat Hawks, bahwa ukuran yang mengecil, justru makin efisien.
Namun, tak semua ilmuwan berpendapat senada. Beberapa yakin bahwa manusia menjadi makin bodoh, sejalan dengan proses evolusinya.
Beberapa teori digunakan untuk menjelaskan misteri peyusutan otak manusia. Salah satunya, bahwa ukuran kepala yang besar diperlukan manusia purba jaman Paleolitik Atas untuk selamat dari udara dingin.
Teori kedua, ukuran kepala berkaitan dengan pola mencari makan di masa lalu, yakni berburu. Makin gampang mendapatkan makanan, kepala manusia akan berhenti berkembang.
Sementara, ahli lain berpendapat, dulu, ketika tingkat kematian bayi tinggi, hanya bayi yang terkuat yang selamat -- dan yang paling kuat adalah yang memiliki kepala dan otak besar. Kini, dengan penurunan tingkat kematian bayi, mendorong penurunan ukuran otak secara proporsional.
Menurut penelitian yang dilakukan David Geary dan Drew Bailey dari University of Missouri mengeksplorasi bagaimana ukuran tengkorak manusia berubah ketika manusia beradaptasi dalam lingkungan sosial yang makin kompleks antara 1,9 juta sampai 10.000 tahun lalu.
Mereka menemukan, saat kepadatan populasi rendah, ukuran tengkorak meningkat. Sebaliknya, ketika populasi daerah tertentu berubah dari jarang ke padat, ukuran tengkorak kita menurun -- karena manusia tak harus cerdas untuk bertahan hidup.
Namun Dr Geary memperingatkan, jangan lantas mengira bahwa nenek moyang manusia lebih pintar dari kita.
"Nenek moyang kita tidak memiliki intelektualitas dan daya kreasi seperti manusia modern, karena mereka tidak memiliki dukungan budaya," kata dia. Saat itu, manusia diperas pikirannya untuk bertahan hidup.
Peningkatan pertanian dan kota-kota modern yang didasarkan pada spesialisasi ekonomi memungkinkan manusia yang cerdas menfokuskan upaya mereka pada ilmu, seni, atau bidang lainnya.
• VIVAnews
Langganan:
Postingan (Atom)









- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact